Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PER, PBV, dan DCF

Membeli saham tanpa mengetahui nilainya sama saja dengan membeli kucing dalam karung. Bayangkan Anda ditawari sebuah rumah seharga Rp2 miliar. Apakah itu mahal atau murah? Anda tidak akan tahu jawabannya tanpa mengetahui lokasi, luas tanah, kondisi bangunan, dan harga pasaran di sekitarnya.

Begitu pula di pasar modal. Pentingnya valuasi saham sebelum membeli tidak bisa ditawar lagi. Tanpa valuasi, Anda hanya berspekulasi, bukan berinvestasi. Banyak investor pemula terjebak membeli saham di "pucuk" (harga tertinggi) karena hanya mengikuti tren atau pom-pom influencer, tanpa menyadari bahwa harga tersebut sudah jauh di atas harga wajar saham.

Artikel ini akan mengupas tuntas tiga metode valuasi paling populer: PER (Price to Earnings Ratio), PBV (Price to Book Value), dan DCF (Discounted Cash Flow). Kita akan membedah cara menghitungnya, kapan menggunakannya, dan bagaimana menghindari kesalahan valuasi saham yang sering terjadi.

Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PER, PBV, dan DCF


Apa Itu Valuasi Saham dan Mengapa Penting?

Pengertian Valuasi Saham

Secara sederhana, Apa Itu Valuasi Saham? Valuasi saham adalah proses analitis untuk menentukan nilai intrinsik atau nilai wajar (fair value) dari suatu perusahaan. Nilai intrinsik ini adalah nilai sebenarnya dari perusahaan berdasarkan kemampuan bisnisnya dalam menghasilkan uang, aset yang dimilikinya, dan prospek pertumbuhannya di masa depan.

Harga saham yang Anda lihat di aplikasi sekuritas adalah harga pasar (harga yang bersedia dibayar orang saat ini), sedangkan hasil valuasi adalah harga wajar.

Tujuan Valuasi Saham Bagi Investor

Tujuan utamanya sederhana: Menemukan saham salah harga.

  1. Saham Undervalued: Ketika Harga Pasar < Nilai Wajar. Ini adalah peluang beli.

  2. Saham Overvalued: Ketika Harga Pasar > Nilai Wajar. Ini adalah sinyal untuk menjual atau menghindari.

Hubungan Valuasi Saham dengan Risiko Investasi

Valuasi saham berfungsi sebagai jangkar risiko. Jika Anda membeli saham yang undervalued, Anda memiliki apa yang disebut Benjamin Graham sebagai Margin of Safety. Semakin besar selisih antara harga beli Anda dengan nilai wajar perusahaan, semakin rendah risiko kerugian permanen yang Anda hadapi. Sebaliknya, membeli saham tanpa valuasi meningkatkan risiko kerugian modal secara signifikan jika pasar terkoreksi.

Mengenal Metode Valuasi Saham yang Paling Umum

Dalam dunia Analisis Fundamental Saham, metode valuasi umumnya dibagi menjadi dua kategori besar:

Valuasi Saham Secara Relatif vs Absolut

1. Valuasi Relatif (PER, PBV)

Metode ini membandingkan nilai perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis (satu industri) atau dengan sejarah perusahaan itu sendiri.

  • Konsep: "Apakah saham A lebih murah dibandingkan saham B?"

  • Alat: Price to Earnings Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), Price to Sales (P/S).

  • Kelebihan: Mudah dihitung dan data tersedia luas.

2. Valuasi Absolut (DCF)

Metode ini mencoba mencari nilai intrinsik perusahaan tanpa mempedulikan harga pasar perusahaan lain, melainkan fokus pada fundamental bisnis itu sendiri (arus kas).

  • Konsep: "Berapa nilai tunai dari seluruh uang yang akan dihasilkan perusahaan ini di masa depan?"

  • Alat: Discounted Cash Flow (DCF), Dividend Discount Model (DDM).

  • Kelebihan: Lebih presisi secara teori, namun lebih rumit.

Kapan Menggunakan Masing-Masing Metode?

  • Gunakan PER untuk perusahaan yang labanya stabil dan bertumbuh (sektor consumer goods, perbankan).

  • Gunakan PBV untuk perusahaan yang memiliki aset fisik besar atau sektor keuangan (bank, properti).

  • Gunakan DCF untuk perusahaan yang arus kasnya bisa diprediksi jangka panjang atau untuk mendapatkan keyakinan penuh atas nilai intrinsik murni.

Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PER (Price to Earnings Ratio)

Pengertian dan Fungsi PER

PER adalah rasio yang menggambarkan harga saham sebuah perusahaan dibandingkan dengan keuntungan atau laba per saham (EPS) yang dihasilkannya.

  • Apa itu PER Saham: Rasio ini memberitahu Anda berapa Rupiah yang harus Anda bayar untuk mendapatkan setiap 1 Rupiah laba perusahaan.

  • PER Tinggi vs PER Rendah:

    • PER Rendah (misal 5x): Bisa berarti saham tersebut murah (undervalued), atau pasar pesimis terhadap masa depan perusahaan (kinerja menurun).

    • PER Tinggi (misal 30x): Bisa berarti saham tersebut mahal (overvalued), atau pasar berekspektasi perusahaan akan tumbuh sangat pesat di masa depan (high growth).

Rumus Menghitung PER Saham

Rumus dasar PER adalah:

$$PER = \frac{\text{Harga Saham}}{\text{Earnings Per Share (EPS)}}$$

Di mana:

  • Harga Saham: Harga penutupan pasar saat ini.

  • EPS (Laba Per Lembar Saham): Laba Bersih dibagi jumlah lembar saham beredar

Contoh Perhitungan Valuasi Saham dengan PER

Misalkan Anda ingin menganalisis PT Maju Terus (KODE: MAJU).

  • Harga saham MAJU saat ini: Rp2.000 per lembar.

  • Laba bersih tahunan perusahaan: Rp100 Miliar.

  • Jumlah saham beredar: 500 Juta lembar.

Langkah 1: Hitung EPS

$$EPS = \frac{\text{Rp100.000.000.000}}{\text{500.000.000 lembar}} = \text{Rp200 per lembar}$$

Langkah 2: Hitung PER

$$PER = \frac{\text{Rp2.000}}{\text{Rp200}} = 10\text{ kali (10x)}$$

Cara Membandingkan:

Jika rata-rata PER industri sejenis adalah 15x, maka saham MAJU dengan PER 10x bisa dianggap Saham Undervalued atau relatif lebih murah dibandingkan kompetitornya.

Kelebihan dan Kekurangan Metode PER

  • Kelebihan: Sangat mudah dipahami pemula, indikator cepat untuk melihat mahal/murah.

  • Kekurangan: Tidak bisa digunakan untuk perusahaan yang merugi (EPS negatif). Laba bersih juga bisa dimanipulasi melalui akuntansi (laba satu kali/non-operasional).

Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PBV (Price to Book Value)

Pengertian PBV dalam Valuasi Saham

PBV adalah rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan nilai bukunya (book value). Nilai buku adalah nilai aset bersih perusahaan jika perusahaan dilikuidasi (Aset dikurangi Utang).

  • PBV < 1: Secara teori, harga saham dijual di bawah nilai modal bersihnya. Ini sering dianggap sebagai indikasi kuat undervalued.

  • PBV > 1: Pasar menghargai perusahaan lebih tinggi dari aset fisiknya, biasanya karena perusahaan mampu menghasilkan laba tinggi dari aset tersebut (ROE tinggi).

Rumus Menghitung PBV Saham

$$PBV = \frac{\text{Harga Saham}}{\text{Nilai Buku per Saham (BVPS)}}$$

Di mana:

  • BVPS (Book Value Per Share): (Total Ekuitas) dibagi (Jumlah Saham Beredar).

Contoh Perhitungan Valuasi Saham dengan PBV

Mari kita analisis Bank Sejahtera (KODE: BANK).

  • Harga saham BANK: Rp4.500.

  • Total Ekuitas (Modal Bersih): Rp4 Triliun.

  • Jumlah saham beredar: 1 Miliar lembar.

Langkah 1: Hitung BVPS

$$BVPS = \frac{\text{Rp4.000.000.000.000}}{\text{1.000.000.000 lembar}} = \text{Rp4.000 per lembar}$$

Langkah 2: Hitung PBV

$$PBV = \frac{\text{Rp4.500}}{\text{Rp4.000}} = 1,125\text{ kali (1,12x)}$$

Artinya, Anda membayar 1,12 kali lipat dari nilai modal bersih bank tersebut. Jika rata-rata industri perbankan memiliki PBV 2x, maka BANK tergolong murah.

Kapan PBV Lebih Akurat Digunakan?

PBV paling cocok untuk Saham Asset-Based:

  1. Perbankan: Karena aset bank berupa uang dan surat berharga yang nilainya tercatat akurat di buku (Mark-to-market).

  2. Properti & Konstruksi: Perusahaan yang memiliki banyak tanah dan bangunan.

  3. Manufaktur Berat: Yang memiliki pabrik dan mesin besar.

PBV kurang cocok untuk perusahaan teknologi atau jasa yang aset utamanya adalah intangible (merek, hak paten, SDM) karena nilai buku mereka biasanya sangat kecil, membuat PBV terlihat sangat mahal (bisa 10x - 50x) padahal wajar.

Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan DCF (Discounted Cash Flow)

Pengertian dan Konsep Dasar DCF

Ini adalah "raja" dari metode valuasi. DCF mencoba memproyeksikan uang tunai yang akan dihasilkan perusahaan di masa depan, lalu menariknya ke nilai saat ini (Present Value).

Mengapa DCF dianggap paling akurat?

Karena pada akhirnya, nilai sebuah bisnis adalah seberapa banyak uang tunai (Cash) yang bisa ia berikan kepada pemegang sahamnya sepanjang masa hidup bisnis tersebut. Bukan sekadar laba akuntansi.

Komponen Utama dalam Metode DCF

  1. Free Cash Flow (FCF): Arus kas bersih yang benar-benar bisa diambil investor setelah perusahaan membayar biaya operasional dan belanja modal (Capex).

  2. Growth Rate (g): Tingkat pertumbuhan arus kas di masa depan.

  3. Discount Rate (WACC): Tingkat pengembalian yang diharapkan atau biaya modal. Ini digunakan untuk mendiskon uang masa depan ke masa kini. (Ingat: Rp1 juta tahun depan nilainya lebih rendah dari Rp1 juta hari ini).

Langkah-Langkah Menghitung Valuasi Saham dengan DCF

(Disederhanakan untuk pemahaman konsep)

  1. Proyeksi Arus Kas (FCF): Perkirakan FCF untuk 5-10 tahun ke depan.

  2. Hitung Terminal Value: Nilai perusahaan setelah tahun ke-10 hingga tak terhingga.

  3. Diskonto ke Present Value: Gunakan rumus PV untuk menarik semua angka masa depan ke hari ini.

  4. Jumlahkan: Total Present Value FCF + Total Present Value Terminal Value = Nilai Enterprise (Enterprise Value).

  5. Cari Nilai Ekuitas: Enterprise Value - Utang + Kas.

  6. Nilai Per Saham: Nilai Ekuitas / Jumlah Saham Beredar.

Contoh Sederhana Perhitungan DCF Saham

Asumsi PT Rotiku (ROTI):

  • FCF Tahun ini: Rp100.

  • Pertumbuhan (Growth): 10% per tahun selama 3 tahun.

  • Discount Rate: 10%.

Proyeksi:

  • Tahun 1: Rp110

  • Tahun 2: Rp121

  • Tahun 3: Rp133

Menghitung Present Value (PV) di tiap tahun:

Rumus PV:

$$PV = \frac{CF}{(1+r)^n}$$
  • PV Tahun 1:

    $$110 / (1.1)^1 = 100$$
  • PV Tahun 2:

    $$121 / (1.1)^2 = 100$$
  • PV Tahun 3:

    $$133 / (1.1)^3 = 100$$

Total Nilai Intrinsik (Hanya dari 3 tahun ini) = Rp300. (Dalam praktek nyata, Anda harus menambahkan Terminal Value yang biasanya porsinya paling besar).

Jika harga saham ROTI di pasar adalah Rp250, dan hasil hitungan DCF (termasuk terminal value) adalah Rp500, maka saham ini sangat undervalued dengan Margin of Safety 50%.

Risiko dan Kelemahan Metode DCF

DCF sangat sensitif terhadap asumsi. Jika Anda salah memasukkan asumsi Growth Rate (terlalu optimis) atau Discount Rate (terlalu rendah), hasil valuasi bisa meleset jauh. Ini adalah kesalahan valuasi saham yang fatal bagi pemula yang terlalu percaya diri dengan angka Excel mereka.

Perbandingan PER vs PBV vs DCF

Agar lebih mudah memahami perbedaan ketiga metode ini, simak tabel berikut

FiturPER (Price to Earnings)PBV (Price to Book)DCF (Discounted Cash Flow)
Fokus UtamaLaba Bersih (Profitabilitas)Aset Bersih (Neraca)Arus Kas Masa Depan
Tingkat KesulitanMudahMudahSulit / Kompleks
Cocok UntukPerusahaan stabil, Retail, ManufakturBank, Properti, AsuransiPerusahaan matang, Infrastruktur
KelemahanLaba bisa dimanipulasiTidak relevan untuk perusahaan jasa/techSangat sensitif pada asumsi
Horison WaktuJangka Pendek - MenengahJangka Menengah - PanjangJangka Panjang

Tips: Jangan hanya bergantung pada satu metode. Gunakan kombinasi (Triangulasi). Jika sebuah saham murah secara PER, murah secara PBV, dan nilai intrinsik DCF-nya tinggi, maka keyakinan Anda untuk membeli akan jauh lebih besar.

Cara Menentukan Saham Undervalued atau Overvalued

Setelah menghitung, bagaimana mengambil keputusan?

1. Gabungkan Hasilnya

Jika hasil valuasi PER menunjukkan harga wajar Rp1.000, PBV menunjukkan Rp1.100, dan DCF menunjukkan Rp1.200. Anda bisa mengambil rata-rata konservatif, misalnya Rp1.100 sebagai acuan harga wajar saham.

2. Terapkan Margin of Safety (MoS)

Jangan membeli tepat di harga wajar. Berikan ruang untuk kesalahan analisis.

  • Benjamin Graham menyarankan MoS minimal 30%.

  • Jika harga wajar Rp1.100, maka harga beli maksimal Anda adalah:

    $$1.100 - (30\% \times 1.100) = \text{Rp770}$$

3. Matriks Keputusan

  • Strong Buy: Harga Pasar < Harga Beli Maksimal (dengan MoS).

  • Hold: Harga Pasar berada di antara Harga Beli Maksimal dan Harga Wajar.

  • Sell/Trim: Harga Pasar > Harga Wajar (Overvalued) secara signifikan (misal 20% di atas nilai wajar).

Ini adalah inti dari strategi mencari Saham Undervalued dan Overvalued.

Tips Valuasi Saham agar Lebih Akurat

Untuk meminimalkan bias dan kesalahan, ikuti tips berikut:

  1. Gunakan Laporan Keuangan Terbaru: Selalu update data Anda dengan Laporan Keuangan (LK) kuartal terakhir atau Annual Report terbaru.

  2. Bandingkan "Apple to Apple": Jangan membandingkan PER bank dengan PER perusahaan tambang. Bandingkan Bank BCA dengan Bank BRI, atau Adaro dengan Bukit Asam.

  3. Perhatikan Kualitas Bisnis: Saham dengan valuasi murah (PER rendah) belum tentu bagus jika kualitas bisnisnya buruk (utang menumpuk, manajemen tidak jujur). Ini disebut Value Trap.

  4. Analisis Makro Ekonomi: Pertimbangkan suku bunga dan inflasi, karena ini sangat mempengaruhi Discount Rate dalam DCF.

Kesalahan Umum dalam Menghitung Valuasi Saham

Bahkan investor berpengalaman pun bisa melakukan kesalahan valuasi saham berikut:

  1. Terlalu Optimis pada Proyeksi (Growth Trap): Mengasumsikan perusahaan akan tumbuh 20% per tahun selamanya. Ingat, reversion to the mean (semua akan kembali ke rata-rata) itu nyata.

  2. Mengabaikan One-Time Gain: Laba perusahaan melonjak tiba-tiba karena menjual tanah, bukan karena operasional. Jika ini dimasukkan ke perhitungan PER, saham akan terlihat sangat murah padahal aslinya mahal.

  3. Salah Membaca Laporan Keuangan: Tidak teliti membedakan antara Laba Bersih (Net Income) dan Arus Kas Operasi (Operating Cash Flow).

  4. Menganggap Valuasi adalah Ilmu Pasti: Valuasi adalah seni dan sains. Angka yang Anda hasilkan adalah estimasi, bukan kepastian.

Kesimpulan

Menghitung valuasi saham adalah keterampilan terpenting yang harus dimiliki oleh seorang investor saham. Dengan memahami cara menghitung valuasi saham menggunakan PER, PBV, dan DCF, Anda bisa mengubah cara pandang Anda dari sekadar "tebak-tebakan harga" menjadi investasi berbasis data.

  • Gunakan PER untuk penilaian cepat profitabilitas.

  • Gunakan PBV untuk melihat keamanan aset (terutama bank/properti).

  • Gunakan DCF untuk melihat prospek arus kas jangka panjang.

Ingatlah, tidak ada metode yang sempurna. Metode terbaik adalah metode yang Anda pahami sepenuhnya dan disiplin menerapkannya dengan prinsip Margin of Safety.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Metode mana yang sebenarnya paling bagus? PER, PBV, atau DCF? Tidak ada satu metode yang "paling sakti" untuk semua situasi. Jawabannya tergantung jenis sahamnya:

  • Gunakan PER untuk perusahaan yang labanya stabil (seperti Consumer Goods atau Retail).

  • Gunakan PBV untuk perusahaan perbankan atau properti yang punya banyak aset fisik.

  • Gunakan DCF jika Anda ingin menakar nilai jangka panjang (5-10 tahun) dan paham cara memprediksi arus kas.

  • Tips: Investor pro biasanya menggabungkan ketiganya agar analisisnya lebih matang.

2. Berapa angka PER yang dianggap "Murah"? Secara umum, saham dengan PER di bawah 10x sering dianggap murah, dan PER di atas 20x dianggap mahal. Namun, jangan telan mentah-mentah angka ini. Anda wajib membandingkannya dengan:

  • Rata-rata Industri: PER saham teknologi wajarnya memang tinggi (bisa 30x), sedangkan saham batubara wajarnya rendah (bisa 5x-8x).

  • Rata-rata Historis: Bandingkan PER saham tersebut saat ini dengan PER rata-rata dia selama 5 tahun terakhir.

3. Kenapa ada saham dengan PBV di bawah 1 (diskon) tapi harganya turun terus? Hati-hati, ini bisa jadi adalah "Value Trap" (Jebakan Harga Murah). Saham yang PBV-nya rendah (misal 0,4x) bisa jadi memang pantas dihargai murah karena:

  • Perusahaan terus merugi.

  • Punya utang yang sangat besar dan berisiko bangkrut.

  • Manajemen perusahaan tidak jujur (GCG buruk). Jadi, murah saja tidak cukup; pastikan perusahaannya juga sehat.

4. Apakah pemula wajib bisa menghitung DCF? Tidak wajib. Metode DCF cukup rumit dan sensitif (salah asumsi sedikit, hasilnya beda jauh). Untuk pemula, menguasai PER dan PBV serta memahami laporan keuangan dasar sudah sangat cukup untuk menemukan saham bagus. Anda bisa belajar DCF perlahan-lahan seiring bertambahnya jam terbang.

5. Di mana saya bisa mendapatkan data PER dan PBV tanpa menghitung manual? Di zaman sekarang sudah sangat mudah. Anda bisa melihat rasio ini secara otomatis di aplikasi sekuritas (seperti Stockbit, Ajaib, IPOT) pada menu Key Stats atau Fundamental. Namun, menghitung manual sesekali tetap disarankan agar Anda paham dari mana angka itu berasal


Post a Comment for "Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PER, PBV, dan DCF"