10 Kesalahan Pemula Saat Pertama Kali Beli Saham
Pasar saham Indonesia (IHSG) belakangan ini semakin ramai diperbincangkan. Mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga mulai melirik saham sebagai instrumen investasi. Potensi keuntungan (cuan) yang tinggi memang menggiurkan, namun sayangnya, pasar modal bukanlah mesin pencetak uang instan.
Banyak investor baru yang akhirnya "muntaber" (mundur tanpa berita) atau kapok berinvestasi karena portofolionya merah membara dalam waktu singkat. Seringkali, kerugian ini bukan karena pasar yang jahat, melainkan karena kesalahan-kesalahan dasar yang sebenarnya bisa dihindari.
Apakah Anda baru saja membuka rekening dana nasabah (RDN)? Atau berencana membeli saham pertama Anda minggu ini? Tahan dulu tombol "Buy" Anda. Mari kita bedah 10 kesalahan fatal yang sering dilakukan pemula agar Anda bisa berinvestasi dengan lebih cerdas dan tenang.
10 Kesalahan Pemula Saat Pertama Kali Beli Saham
1. Tidak Memiliki Rencana (Trading Plan)
Kesalahan paling klasik adalah membeli saham tanpa tahu alasannya. Banyak pemula membeli saham hanya karena "feeling" atau karena nama perusahaannya terdengar keren.
Investasi tanpa rencana sama saja dengan berjudi. Sebelum membeli, Anda harus bisa menjawab tiga pertanyaan dasar:
Di harga berapa saya masuk?
Di harga berapa saya akan ambil untung (Take Profit)?
Di harga berapa saya harus membatasi kerugian (Cut Loss) jika analisa salah?
Tanpa trading plan, Anda akan diombang-ambingkan oleh fluktuasi harga pasar harian.
2. FOMO (Fear of Missing Out)
Pernahkah Anda melihat sebuah saham naik 20% dalam sehari, lalu semua orang di media sosial membicarakannya? Karena takut ketinggalan kereta, Anda pun nekat membeli di harga pucuk. Keesokan harinya, harga saham tersebut terjun bebas (ARB).
FOMO adalah musuh terbesar psikologi investor. Membeli saham yang sudah naik terlalu tinggi (hanya karena ikut-ikutan) sangat berisiko karena rawan aksi profit taking oleh investor yang sudah masuk lebih dulu. Ingat, cara investasi saham pemula yang bijak adalah membeli saat harga masih wajar atau terdiskon, bukan saat harga sudah terbang ke angkasa.
3. Menggunakan "Uang Panas"
Ini adalah aturan emas yang sering dilanggar: Gunakanlah Uang Dingin.
Uang panas adalah uang yang dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, uang sekolah anak, atau bahkan uang hasil pinjaman (pinjol). Ketika Anda menggunakan uang panas, psikologi Anda akan terganggu. Anda tidak akan tenang saat harga saham turun sedikit saja karena uang tersebut akan segera dipakai. Akibatnya, keputusan jual-beli Anda menjadi emosional dan tidak rasional.
4. Malas Melakukan Analisis (Hanya Dengar "Kata Teman")
"Kata teman saya saham ABCD bakal ke bulan!" "Influencer X bilang saham GHIJ targetnya 5000!"
Mendengarkan rekomendasi saham (stock pick) boleh-boleh saja sebagai referensi, namun menelannya mentah-mentah adalah kesalahan besar. Influencer atau teman Anda mungkin punya modal yang berbeda, profil risiko yang berbeda, atau bahkan mungkin mereka sudah jualan saat Anda baru membeli.
Sebagai pemula, minimal Anda harus memahami dua jenis analisis dasar:
Analisis Fundamental: Membedah kesehatan keuangan perusahaan (Laporan Keuangan, PER, PBV).
Analisis Teknikal: Membaca grafik pergerakan harga untuk menentukan waktu beli dan jual.
5. Tidak Melakukan Diversifikasi (All-in di Satu Saham)
Pernah dengar pepatah "Don't put all your eggs in one basket"? Pepatah ini sangat relevan di saham. Jika Anda menaruh seluruh modal Anda hanya di satu saham (All-in), risiko Anda menjadi 100%. Jika saham tersebut turun 50% atau terkena suspensi bursa, aset Anda akan "nyangkut" sepenuhnya.
Sebarlah modal Anda ke beberapa sektor industri yang berbeda (misalnya: perbankan, konsumer, dan pertambangan) untuk meminimalisir risiko. Namun, jangan juga terlalu banyak (misalnya 30 saham) karena akan sulit memantaunya.
6. Menangkap Pisau Jatuh (Average Down Sembarangan)
Saat harga saham turun, banyak pemula buru-buru membeli lagi (average down) dengan harapan harga rata-rata kepemilikan menjadi turun. Strategi ini bagus jika perusahaan tersebut memiliki fundamental yang kuat dan penurunan harga hanya bersifat sementara.
Namun, jika Anda melakukan average down pada saham gorengan atau perusahaan yang sedang diambang kebangkrutan, itu namanya "menangkap pisau jatuh". Tangan Anda akan terluka, dan modal Anda akan semakin tergerus habis.
7. Terlalu Fokus pada Saham "Gorengan" Murah
Pemula sering tergiur dengan saham di harga Rp50 - Rp100 per lembar karena merasa bisa mendapat lot yang banyak. Padahal, saham dengan nominal kecil (sering disebut penny stock atau saham gocap) biasanya memiliki volatilitas yang sangat tinggi dan likuiditas yang buruk.
Banyak saham murah yang "tidur" di harga Rp50 dan tidak bergerak bertahun-tahun. Lebih baik membeli saham perusahaan Blue Chip (perusahaan besar, mapan, dan rajin bagi dividen) meskipun harganya terlihat lebih mahal, karena secara fundamental lebih aman untuk jangka panjang.
8. Tidak Tega Melakukan Cut Loss
Tidak ada investor yang analisisnya 100% benar terus-menerus. Ada kalanya pasar bergerak berlawanan dengan prediksi kita. Kesalahan pemula adalah penyangkalan (denial). Mereka berharap harga akan naik kembali, padahal tren sudah patah (breakdown).
Akhirnya, kerugian yang awalnya hanya -3% dibiarkan membesar menjadi -30% hingga -60%. Belajarlah untuk disiplin melakukan cut loss demi menyelamatkan sisa modal Anda untuk diputar di saham lain yang lebih potensial.
9. Mental Ingin Cepat Kaya
Saham adalah instrumen investasi untuk menumbuhkan kekayaan (wealth accumulation), bukan skema cepat kaya (get rich quick). Jika Anda mengharapkan keuntungan 100% dalam seminggu secara konsisten, Anda berada di tempat yang salah.
Ekspektasi yang tidak realistis akan mendorong Anda melakukan tindakan spekulatif yang berbahaya, seperti menggunakan margin (utang sekuritas) secara berlebihan tanpa perhitungan. Hargai proses belajar dan nikmati kekuatan bunga berbunga (compound interest) dalam jangka panjang.
10. Panik Selling Saat Pasar Koreksi
Pasar saham itu dinamis; ada kalanya hijau, ada kalanya merah. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi dalam, banyak pemula yang panik dan menjual semua sahamnya di harga murah karena takut harganya turun lebih dalam.
Padahal, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar justru merupakan kesempatan emas untuk membeli saham bagus dengan harga diskon. Kuncinya adalah kembali ke poin nomor 1 dan 4: Jika fundamental perusahaan masih bagus dan tidak ada yang berubah dari rencana awal, penurunan harga hanyalah fluktuasi pasar biasa.
Kesimpulan
Memulai investasi saham adalah langkah finansial yang tepat untuk masa depan, asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Menghindari 10 kesalahan di atas tidak menjamin Anda akan selalu untung, tetapi akan drastis mengurangi risiko Anda mengalami kerugian fatal di awal perjalanan.
Ingatlah bahwa cara investasi saham pemula terbaik adalah dengan terus meng-upgrade leher ke atas (ilmu pengetahuan). Jangan malu untuk memulai dengan modal kecil sambil belajar mengenali karakter pasar.
Pasar saham adalah mekanisme transfer uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar. - Warren Buffett
Jadilah investor yang cerdas, sabar, dan memiliki perencanaan yang matang. Selamat berinvestasi!
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Q: Berapa modal minimal untuk mulai beli saham? A: Sangat terjangkau. Saat ini Anda bisa membeli saham mulai dari 1 lot (100 lembar). Ada saham yang harganya di bawah Rp100.000 per lot. Anda bisa mulai deposit RDN mulai dari Rp100.000 saja.
Q: Apa bedanya investasi saham dan trading saham? A: Investasi saham berfokus pada jangka panjang (tahunan) dan melihat pertumbuhan bisnis perusahaan (fundamental). Trading saham berfokus pada jangka pendek (harian/mingguan) dan memanfaatkan fluktuasi harga pasar (teknikal).
Q: Apakah pemula boleh beli saham IPO? A: Boleh, tapi harus hati-hati. Saham IPO (Initial Public Offering) memiliki volatilitas tinggi di hari-hari pertama listing. Pastikan Anda membaca prospektus perusahaan tersebut sebelum memesan.
Q: Apa aplikasi saham terbaik untuk pemula? A: Pilihlah sekuritas yang sudah terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Beberapa aplikasi populer yang ramah pemula di Indonesia antara lain Ajaib, Bibit (Stockbit), IPOT, atau Mirae Asset.
Q: Bagaimana cara memilih saham pertama yang aman? A: Mulailah dengan saham-saham indeks LQ45 atau IDX30. Ini adalah kumpulan perusahaan dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang umumnya solid, seperti saham bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) atau saham consumer goods (ICBP, UNVR).

Post a Comment for "10 Kesalahan Pemula Saat Pertama Kali Beli Saham"